Sisi Lain Metropolitan
Bak Pesepakbola, Pedagang Kerupuk Punya Nilai Transfer Puluhan Juta: Skill-nya Kayak Messi-Ronaldo
Bursa transfer antar pemain terjadi di dunia produsen kerupuk. Di dunia pabrik kerupuk, pemain itu pedagang sedangkan pabriknya pemilik klub.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Septiana
"Pertimbangan pemilik kerupuk pilih pemain, karena pertama skill dagang," ujar Elfin kepada TribunJakarta.com.
"Kalengnya udah taruh berapa banyak. Dia pun gampang memasukkan kaleng yang baru," ia menambahkan.
Bisa dibilang, pedagang kerupuk dengan pesepakbola sebelas dua belas, yaitu sama-sama butuh punya fisik yang kuat.
Iding (62) salah satu pedagang kerupuk yang sudah gaek.
Ia bercerita, fisik yang kuat modal utama pedagang kerupuk karena dituntut gesit dan lincah ketika berkeliling membawa kaleng demi mencari pelanggan baru.
Meski sudah usia lanjut, Iding masih kuat mengayuh sepeda menyusuri jalan raya ibu kota demi berjualan kerupuk.
Nilai Transfer Tembus Rp 90 Juta!
Elfin bercerita, pernah menjual dua pedagang kerupuk ke pabrik lain saat tawarannya pas.
Baca juga: Kartu Prakerja Gelombang 14 Dibuka Hari Ini, Muncul Tulisan Gelombang Tidak Ditemukan, Apa Artinya?
Suatu ketika, seorang pemilik pabrik kerupuk yang baru beroperasi di kawasan Bintaro datang menemui Elfin di pabriknya.
Ia ingin membeli dua pedagang kerupuk yang bekerja di Erna Jaya.

Calon pembeli ini sebelumnya sudah mendekati dua pedagang kerupuk karyawan Elfin yang menjadi incarannya.
"Dia datang ke saya, ngobrol-ngobrol ingin membeli dua pedagang saya. Saya setuju, tapi 2 pemain ini bernilai Rp 90 juta. Berani enggak? Berani katanya," cerita Elfin.
Uang transfer itu, lanjut Elfin, sepenuhnya milik pabrik. Tak dibagi ke pemain yang dijualnya.
Pedagang Free Transfer
Nilai transfer termahal sempat terjadi di kawasan Jakarta Barat.