Sisi Lain Metropolitan
Bak Pesepakbola, Pedagang Kerupuk Punya Nilai Transfer Puluhan Juta: Skill-nya Kayak Messi-Ronaldo
Bursa transfer antar pemain terjadi di dunia produsen kerupuk. Di dunia pabrik kerupuk, pemain itu pedagang sedangkan pabriknya pemilik klub.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Septiana
Pedagang itu Ule namanya. Harga transfernya mahal, lantaran Ule selain punya banyak pelanggan, juga memiliki anak buah.
"Harganya lebih mahal, mencapai Rp 120 juta di Jakarta Barat. Skill-nya hebat sama kayak Messi dan Ronaldo lah," seloroh Elfin.
Bebas transfer biasanya juga terjadi di dunia produsen kerupuk.
Baca juga: Cara Kerupuk Erna Jaya Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19: Jemput Bola Sampai Rumah Pejabat
Para pedagang yang biasanya bebas transfer, lantaran pabrik tempat mereka bekerja gulung tikar. Alhasil, para pedagang berstatus free agent alias luntang lantung.
"Free transfer itu ketika ada pabrik gulung tikar, enggak bisa bikin kerupuk jadinya para pedagang luntang lantung. Dulu dari pabrik lain banyak yang ke sini karena bebas transfer," ceritanya.
Erna Jaya Jadi Klub Elite
Elfin melanjutkan pabrik kerupuk Erna Jaya diibaratkan klub elite di dunia sepakbola.
Soalnya, satu pemain di pabriknya dihargai minimal Rp 50 juta. Rata-rata skill pedagang kerupuk di Erna Jaya bisa menjual 700 sampai 1.000 kerupuk per hari.
Elfin menuturkan jarang pemilik pabrik rela membeli pedagang kerupuk yang minim pengalaman.
Pemain baru biasanya dihargai Rp 30 juta. Biasanya si pemula baru bisa menjual 200 kaleng kerupuk sekitar 1 - 2 tahun kerja.
"Memang lebih murah ambil pemain baru tapi prosesnya lama. Berbeda sama yang udah jadi, pengalaman dan langganannya udah di mana-mana," katanya.
Produsen kerupuk kerap mengincar pedagang layaknya seorang striker bernaluri pembunuh demi kesejahteraan klub.
Rajin cetak goal berarti mencetak banyak pelanggan.