Kisah dari Ciliwung

Kisah Pak Kentir Pemulung Sampah di Kali Ciliwung, Dua Anaknya Sukses Menjadi Pegawai Negeri

Ia kini hidup sebatang kara di bawah kolong jembatan. Istrinya sudah lama tutup usia sedangkan ketiga anaknya sudah berkeluarga di luar kota.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Muhammad Zulfikar
TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas
Pak Kentir sedang memilah sampah di Kolong Jembatan Kali Ciliwung, Manggarai, Jakarta Selatan pada Jumat (12/3/2021). 

Selama bertahun-tahun bergelut di kali keruh, Pak Kentir sempat mengambil sejumlah temuan.

Baca juga: Aurel Dilamar Atta Halilintar, Terkuak 5 Mantan Kekasih Putri Anang dari Pilot hingga Anak Pejabat

Baca juga: Siasat PSG untuk Meminang Lionel Messi Agar Berlabuh di Parc des Princess

Baca juga: Moeldoko Diminta Mundur dari Ketum Demokrat versi KLB, Bersediakah?

Yang paling teringat, ia pernah menemukan 'harta karun' berupa emas seberat 2 gram di kali. 

Pak Kentir tak begitu jelas menerangkan emas itu dalam bentuk perhiasan atau yang lainnya. 

"Kuningan ya segala macem, perabotan. emas juga pernah pas lagi banjir. Emas 2 gram pernah," katanya.

Ia kini hidup sebatang kara di bawah kolong jembatan. Istrinya sudah lama tutup usia sedangkan ketiga anaknya sudah berkeluarga di luar kota. 

Pak Kentir mengaku bahwa dua anaknya sudah menjadi pegawai negeri sedangkan satunya bekerja di sebuah dealer kendaraan.

Salah satu warga sekitar yang sudah lama hidup di sana tak begitu mengetahui latar belakang Pak Kentir. Namun, warga itu membenarkan bahwa ia sudah lama bekerja sebagai pemulung sampah di kali.

Kakek asal Desa Gadu, Jombang, Jawa Timur itu hidup di gerobak usangnya. Ia tak memiliki tempat tinggal.

Penampakan pelampung yang digunakan untuk mencari penghidupan di Kali pada Jumat (12/3/2021).
Penampakan pelampung yang digunakan untuk mencari penghidupan di Kali pada Jumat (12/3/2021). (TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas)

Kemiskinan masih saja membelit hidupnya. Penghasilannya pun terbilang pas-pasan dalam sehari yang rata-rata sekitar Rp 50 ribu.

Uangnya sudah terkuras habis untuk beli rokok dan ongkos bajaj sehari-hari. 

Kesejahteraan tampaknya masih sulit diraih Pak Kentir. Namun, hidup harus terus berjalan. 

Pak Kentir menolak menyerah dalam keadaan. Bekerja lebih baik ketimbang hanya meratapi nasib. 

"Saya enggak betah kalau enggak kerja. Saya juga enggak mau merepotkan anak-anak saya di kampung. Kalau saya sudah berkaki tiga (pakai tongkat) mungkin saya berhenti," ceritanya duduk di sebelah gerobaknya sambil merokok santai.

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved