Sisi Lain Metropolitan

Suka Duka Iyan, Pemilik Layar Tancap yang Masih Bertahan hingga Sekarang: Layar Roboh saat Hujan

Ini cerita suka dan duka Nur Iyan, pemilik usaha layar tancep yang masih bertahan sampai sekarang.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Septiana
TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS
Nur Iyam ,pengusaha layar tancep di kawasan Pondok Benda, Pamulang, memperlihatkan proyektor miliknya, Senin (6/9/2021). 

Cerita lainnya, Ia pernah dipanggil ke kampung di Cibadak, Sukabumi.

Nur Iyan sedang menggulung film yang sudah ditonton pada Senin (6/9/2021).
Nur Iyan sedang menggulung film yang sudah ditonton pada Senin (6/9/2021). (TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS)

Di sana, mereka harus menghadapi jalan yang sempit. 

Mereka menggunakan tiga motor punya warga untuk menggotong alat layar tancep menuju lokasi.

"Itu jaraknya satu kilo lebih. Kita dibantu warga naik motor bawa alat-alat," ungkap dia.

"Ada kali lima kali bolak balik," ceritanya.

Jangankan di pelosok, Iyan menghadapi kendala sama saat menanggap film di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. 

Mobil yang mengangkut sejumlah alat tak bisa masuk lantaran gang terbilang sempit. 

Akhirnya, Iyan menggunakan gerobak untuk mengangkut peralatan ke lokasi acara. 

Baca juga: Kisah Nur Iyan, Mantan Sopir Angkot yang Koleksi 400 Judul Film Buat Layar Tancap

"Akses masuk ke lokasi harus melewati gang sempit," cerita Nur Iyan.

"Kita bawa alat didorong dengan gerobak sekitar 700 meter. Bolak balik itu," tambahnya. 

Itu belum seberapa. Pernah ia mendapat musibah saat film sedang diputar dan warga asyik menonton.

Nur Iyan (48), pengusaha penyewaan film 35 mm dan mesin proyektor, tengah memeriksa mesin proyektornya di rumahnya di Kawasan Pondok Benda, Tangerang Selatan pada Rabu (1/7/2020).
Nur Iyan (48), pengusaha penyewaan film 35 mm dan mesin proyektor, tengah memeriksa mesin proyektornya di rumahnya di Kawasan Pondok Benda, Tangerang Selatan pada Rabu (1/7/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS)

"Pernah mendadak hujan deras disertai angin kencang, layarnya roboh. Itu tantangan terberat saya," katanya.

Setiap kali main, Nur Iyan membawa kain cadangan bila sewaktu-waktu kain sobek atau kotor.

Tarif penayangan layar tancep tergantung jarak.

Bila masih di sekitar Jabodetabek, Nur Iyan memasang tarif Rp 1 jutaan untuk satu kali acara.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved