Sisi Lain Metropolitan
Suka Duka Iyan, Pemilik Layar Tancap yang Masih Bertahan hingga Sekarang: Layar Roboh saat Hujan
Ini cerita suka dan duka Nur Iyan, pemilik usaha layar tancep yang masih bertahan sampai sekarang.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Septiana
Cerita lainnya, Ia pernah dipanggil ke kampung di Cibadak, Sukabumi.

Di sana, mereka harus menghadapi jalan yang sempit.
Mereka menggunakan tiga motor punya warga untuk menggotong alat layar tancep menuju lokasi.
"Itu jaraknya satu kilo lebih. Kita dibantu warga naik motor bawa alat-alat," ungkap dia.
"Ada kali lima kali bolak balik," ceritanya.
Jangankan di pelosok, Iyan menghadapi kendala sama saat menanggap film di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Mobil yang mengangkut sejumlah alat tak bisa masuk lantaran gang terbilang sempit.
Akhirnya, Iyan menggunakan gerobak untuk mengangkut peralatan ke lokasi acara.
Baca juga: Kisah Nur Iyan, Mantan Sopir Angkot yang Koleksi 400 Judul Film Buat Layar Tancap
"Akses masuk ke lokasi harus melewati gang sempit," cerita Nur Iyan.
"Kita bawa alat didorong dengan gerobak sekitar 700 meter. Bolak balik itu," tambahnya.
Itu belum seberapa. Pernah ia mendapat musibah saat film sedang diputar dan warga asyik menonton.

"Pernah mendadak hujan deras disertai angin kencang, layarnya roboh. Itu tantangan terberat saya," katanya.
Setiap kali main, Nur Iyan membawa kain cadangan bila sewaktu-waktu kain sobek atau kotor.
Tarif penayangan layar tancep tergantung jarak.
Bila masih di sekitar Jabodetabek, Nur Iyan memasang tarif Rp 1 jutaan untuk satu kali acara.