Sisi Lain Metropolitan
Suka Duka Iyan, Pemilik Layar Tancap yang Masih Bertahan hingga Sekarang: Layar Roboh saat Hujan
Ini cerita suka dan duka Nur Iyan, pemilik usaha layar tancep yang masih bertahan sampai sekarang.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Septiana
Pemasukan hasil sewa proyektor, film seluloid dan sopir angkot, digunakan untuk menambah koleksi film dari orang-orang yang berkecimpung di dunia film.

"Dari perantara produser film, biasanya saya dapat reel (rol) film itu," lanjutnya.
Pada tahun 2017, Iyan memutuskan untuk menjual mobil angkotnya.
Hasil jual mobil digunakan untuk membeli film lagi agar jumlah koleksinya terus bertambah.
Sebab, harga satu film terbilang mahal. Satu judul film luar negeri berkisar Rp 1 juta.
Saat ini ia sudah memiliki sekitar 400 ratus judul film dari tahun 1977 sampai 2012.
Satu film bisa membutuhkan 5 reel film. Tak heran, ia memiliki ruangan penyimpanan khusus reel-reel film itu.
Usaha penyewaan reel film seluloid milik Nur Iyan masih berjalan.
Baca juga: Cerita Pengusaha Penyewaan Layar Tancap Bertahan saat Corona: Tak Ada Hajatan, Gelar Nobar di Rumah
Obat Penawar Rindu
Ada saja orang yang datang untuk menyewa film dan jasa putar filmnya.
Sebelum pandemi, biasanya ia meladeni sekitar 5 sampai 10 penyewa layar tancep dalam sebulan.

Paling banyak ia memasang layar tancep untuk acara hajatan.
Banyak orang yang masih mencari jasa layar tancep karena ingin bernostalgia.
Layar tancep menjadi obat penawar rindu akan masa lalu.
"Mereka ingin bernostalgia, ingat masa lalu kangen juga. Ini kan termasuk barang langka udah susah," jelas Nur Iyan.
Banyak orang berpikir saat ini layar tancep sudah punah, ternyata masih eksis.
Pandemi datang, Nur Iyan mengaku penghasilannya merosot tajam karena penghasilannya dari acara hajatan.
"Pendapatan bisa 90 persen turunnya pas awal pandemi, karena saya mengandalkan acara hajatan. Sementara enggak boleh berkerumun, jadi menurun drastis," akunya.
Pemasukan Iyan berangsur pulih selepas lebaran. Ia kedatangam pelanggan dari rekan sesama komunitas.
Mereka menyewa film seluloid milik Nur Iyan untuk diputar di rumahnya masing-masing.
Tidak banyak teman-temannya yang memiliki koleksi film seluloid, hanya segelintir saja. Sisanya hanya punya proyektor.
Dari hasil penyewaan film, Nur Iyan mendapatkan uang sekira Rp 80 ribu sampai Rp 200 ribuan.
Lumayan untuk pemasukannya di tengah situasi sulit ini.
"Teman datang minjem film beberapa judul, buat diputar di rumahnya sekalian manasin proyektor milik mereka," ungkap dia.