Sisi Lain Metropolitan

Suka Duka Iyan, Pemilik Layar Tancap yang Masih Bertahan hingga Sekarang: Layar Roboh saat Hujan

Ini cerita suka dan duka Nur Iyan, pemilik usaha layar tancep yang masih bertahan sampai sekarang.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Septiana
TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS
Nur Iyam ,pengusaha layar tancep di kawasan Pondok Benda, Pamulang, memperlihatkan proyektor miliknya, Senin (6/9/2021). 

Pemasukan hasil sewa proyektor, film seluloid dan sopir angkot, digunakan untuk menambah koleksi film dari orang-orang yang berkecimpung di dunia film.

Nur Iyan (48), pengusaha penyewaan film 35 mm dan mesin proyektor, tengah memeriksa mesin proyektornya di rumahnya di Kawasan Pondok Benda, Tangerang Selatan pada Rabu (1/7/2020).
Nur Iyan (48), pengusaha penyewaan film 35 mm dan mesin proyektor, tengah memeriksa mesin proyektornya di rumahnya di Kawasan Pondok Benda, Tangerang Selatan pada Rabu (1/7/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS)

"Dari perantara produser film, biasanya saya dapat reel (rol) film itu," lanjutnya.

Pada tahun 2017, Iyan memutuskan untuk menjual mobil angkotnya.

Hasil jual mobil digunakan untuk membeli film lagi agar jumlah koleksinya terus bertambah.

Sebab, harga satu film terbilang mahal. Satu judul film luar negeri berkisar Rp 1 juta.

Saat ini ia sudah memiliki sekitar 400 ratus judul film dari tahun 1977 sampai 2012.

Satu film bisa membutuhkan 5 reel film. Tak heran, ia memiliki ruangan penyimpanan khusus reel-reel film itu.

Usaha penyewaan reel film seluloid milik Nur Iyan masih berjalan.

Baca juga: Cerita Pengusaha Penyewaan Layar Tancap Bertahan saat Corona: Tak Ada Hajatan, Gelar Nobar di Rumah

Obat Penawar Rindu

Ada saja orang yang datang untuk menyewa film dan jasa putar filmnya.

Sebelum pandemi, biasanya ia meladeni sekitar 5 sampai 10 penyewa layar tancep dalam sebulan.

Puluhan warga nonton bareng (nobar) layar tancap film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI, di sebuah lapangan di bilangan Buaran, Serpong Minggu (30/9/2018).
Puluhan warga nonton bareng (nobar) (TribunJakarta.com/Jaisy Rahman Tohir)

Paling banyak ia memasang layar tancep untuk acara hajatan.

Banyak orang yang masih mencari jasa layar tancep karena ingin bernostalgia.

Layar tancep menjadi obat penawar rindu akan masa lalu.

"Mereka ingin bernostalgia, ingat masa lalu kangen juga. Ini kan termasuk barang langka udah susah," jelas Nur Iyan.

Banyak orang berpikir saat ini layar tancep sudah punah, ternyata masih eksis.

Pandemi datang, Nur Iyan mengaku penghasilannya merosot tajam karena penghasilannya dari acara hajatan.

"Pendapatan bisa 90 persen turunnya pas awal pandemi, karena saya mengandalkan acara hajatan. Sementara enggak boleh berkerumun, jadi menurun drastis," akunya.

Pemasukan Iyan berangsur pulih selepas lebaran. Ia kedatangam pelanggan dari rekan sesama komunitas.

Mereka menyewa film seluloid milik Nur Iyan untuk diputar di rumahnya masing-masing.

Tidak banyak teman-temannya yang memiliki koleksi film seluloid, hanya segelintir saja. Sisanya hanya punya proyektor.

Dari hasil penyewaan film, Nur Iyan mendapatkan uang sekira Rp 80 ribu sampai Rp 200 ribuan.

Lumayan untuk pemasukannya di tengah situasi sulit ini.

"Teman datang minjem film beberapa judul, buat diputar di rumahnya sekalian manasin proyektor milik mereka," ungkap dia.

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved