Sisi Lain Metropolitan
Suka Duka Iyan, Pemilik Layar Tancap yang Masih Bertahan hingga Sekarang: Layar Roboh saat Hujan
Ini cerita suka dan duka Nur Iyan, pemilik usaha layar tancep yang masih bertahan sampai sekarang.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Septiana
Tarif bisa lebih tinggi jika jarak tempuhnya jauh.
Biasanya untuk satu acara, Iyan akan memutar tiga sampai empat film dimulai dari pukul 20.00 WIB sampai 03.00 WIB.
"Film-film yang digemari biasanya yang diperankan Benyamin, Barry Prima sama film Rhoma Irama," katanya.
Baca juga: Siasat Pengusaha Penyewaan Layar Tancap Bertahan di Tengah Covid-19, Gelar Nobar di Rumah
Mantan Sopir yang Banting Setir
Di rumah sederhana Nur Iyan tersimpan koleksi ratusan film seluloid yang masih diputar untuk layar tancep.
Berawal dari hobi, dia memilih menyambung hidup dengan menyewakan reel-reel film dan proyektor 35 mm di tengah derasnya arus digital saat ini.

Perkenalan Nur Iyan dengan film seluloid bermula saat masih kecil.
Kala itu, dia sering menyaksikan layar tancap.
Beranjak dewasa, Nur Iyan ingin mempunyai proyektor sendiri.
Dari hasil menyetir angkot, ia pertama kali membeli satu set lengkap proyektor 16 mm seharga Rp 5 juta dan sekitar 4 sampai 5 judul film pada tahun 2003.
Ia mulai menyewakan mesin proyektor dan film-filmnya kepada orang-orang.
Pada 2005, Nur Iyan membeli lagi mesin proyektor 35 mm tahun 1992.
Usaha penyewaan reel film dan layar tancap itu dijalankan oleh teman-temannya.
Baca juga: Kisah Nur Iyan, Mantan Sopir Angkot yang Koleksi 400 Judul Film Buat Layar Tancap
"Dulu waktu saya narik angkot Ciputat-Pamulang, usaha ini saya tinggalin, yang jalanin teman-teman," ucap dia.
Koleksi filmnya lambat laun mulai bertambah.