Dari Kampung di Pusat Ibukota Ini, 400 Pedagang Starling Berkompetisi Mengais Rezeki Mulai Ashar
Suara adzan Ashar menjadi petanda bagi mereka bersiap mengayuh sepeda menyusuri jalanan ibukota dan sejumlah tempat ramai warga.
Penulis: Abdul Qodir | Editor: Yogi Jakarta
Iwan Sakiman (59), Ketua RT di Kampung Starling menceritakan ada 10 agen dan sekitar 400 pedagang starling di kampung ini.
Agen ini merupakan bos yang memodali mereka untuk berdagang.
Baca juga: Rampok dan Lukai Wanita Pedagang Sembako di Cipulir, Mustain Mengaku Terlilit Utang Judi Togel
Misalnya, modal yang diberikan sekitar Rp 1,5 juta. Modal ini untuk biaya seperti minuman kemasan, rokok, es, dan air panas. Nanti modal ini bebas akan diangsur per minggu atau per bulan.

Kebanyakan pedagang starling di sana ialah para pendatang. Mereka berasal dari Kabupaten Sampang, Madura.
Di Jakarta, ada beberapa kampung starling yang besar. Salah satunya berada di kampung ini.
Setiap sepeda memiliki ciri khas agar dapat dibedakan dengan pedagang starling dari kampung lain.
Sepeda di Kampung Starling Senen memiliki kekhaasan boks berbahan fiber berlapis seng.
"Kalau di kampung lain, ada yang pakai keranjang buah atau sangke dan kayu," ujarnya di Kampung Starling Seneng.
Para pedagang Starling paling sering berjualan di sekitaran Jakarta Pusat. Mereka menyasar wilayah Senayan, Jalan Diponegoro, Taman Surapati, Lapangan Banteng sampai ke Kemayoran.
Baca juga: Menjelajah Kedai Kopi Legendaris di Cikini yang Dirintis Sejak Masa Kolonial Belanda
Setiba di tempat-tempat itu, bukan hanya pedagang Starling dari kampung Senen yang berjualan.
Ada beberapa pedagang starling dari kampung lain yang ikut berjualan. Mereka bersaing merebut hati pelanggan agar membeli kopi dan barang dagangan lainnya.
"Misalnya di Lapangan Banteng, itu beda-beda (grup). Ada yang dari Tanah Abang juga," tambahnya.
Cara merekrut

Tak sulit menjadi pedagang Starling di kampung itu.
Dalam merekrut pedagang baru, bos mengambil dari kenalan anggota starling. Biasanya, dari asal kampung yang sama.