Dari Kampung di Pusat Ibukota Ini, 400 Pedagang Starling Berkompetisi Mengais Rezeki Mulai Ashar
Suara adzan Ashar menjadi petanda bagi mereka bersiap mengayuh sepeda menyusuri jalanan ibukota dan sejumlah tempat ramai warga.
Penulis: Abdul Qodir | Editor: Yogi Jakarta
Anggota itu menjadi penanggung jawab dari kenalan yang dibawanya. Bos akan memberikan modal untuk berdagang dan tempat tinggal.
Soalnya, bila bukan dari bawaan anggota sebelumnya, terkadang ada yang tidak bisa dipercaya.
"Takutnya sudah dikasih modal dibawa kabur uangnya. Banyak kejadian seperti itu," katanya.
Baca juga: Penertiban Pengamen Berujung Pemukulan Terhadap Anggota Satpol PP Kota Depok
Apesnya, anggota yang bertanggung jawab mengganti kerugian si bos.
Seorang pedagang starling mencucuk batu es sebelum berangkat berdagang di kampung Starling di Senen, Jakarta Pusat pada Rabu (22/9/2021). (TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas)
Sebagian besar dari Madura
Pedagang Starling mayoritas di kampung itu berasal dari Pulau Madura.
Menurut pedagang Starling, Slamet, kebanyakan orang Madura merantau karena kesulitan mencari nafkah di kampungnya.
Mereka mengadu nasib ke Jakarta, Surabaya, Kalimantan, Sumatera, Papua, hingga Malaysia dan Arab.
"Ketika jadi petani enggak sukses, jadi iseng-iseng lah mereka ke Jakarta. Salah satunya jadi Starling, ungkap pria asal Kabupaten Sampang itu.
Baca juga: Anak Buruh Bangunan Jadi Pembawa Baki Bendera Pusaka di HUT RI, Sukses Wujudkan Impian Sejak Kecil
Dari berdagang Starling ini, ia mampu menghidupi enak anaknya di kampung.
Pendapat yang sama juga disampaikan Iwan. Menurutnya, banyak orang Madura menjadi pedagang starling karena penghasilan yang terbilang besar.
Sebagai Ketua RT, Iwan juga memiliki tanggung jawab untuk membantu para pedagang yang terjaring satpol pp.
Tak jarang, mereka menjadi mangsa Satpol PP lantaran mangkal dan dinilai mengganggu ketertiban kota.
Iwan turun tangan untuk menjemput mereka yang diangkut Satpol PP.