Dari Kampung di Pusat Ibukota Ini, 400 Pedagang Starling Berkompetisi Mengais Rezeki Mulai Ashar
Suara adzan Ashar menjadi petanda bagi mereka bersiap mengayuh sepeda menyusuri jalanan ibukota dan sejumlah tempat ramai warga.
Penulis: Abdul Qodir | Editor: Yogi Jakarta
TRIBUNJAKARTA.COM, SENEN - Pedagang kopi keliling atau lebih dikenal starling (Starbucks Keliling) mewarnai jalan-jalan ibu kota DKI Jakarta sejak dua dekade terakhir.
Pedagang starling adalah julukan keren yang disematkan dari para penikmat kopi abang-abang sepeda.
Sebagian besar pedagang starling berasal dari daerah yang sama, yakni Madura, dan tinggal di kawasan sama di ibu kota, di antaranya di Kampung Starling Senen, Jakarta Pusat.
TribunJakarta.com menyambangi Kampung Starling di Senen pada Rabu 23/9/2021) petang, seiring sinar matahari sore mulai menembus celah-celah sempit kawasan kampung tersebut.
Tidak sulit menemukan Kampung Starling tersebut karena letaknya tak jauh dari kawasan Tugu Tani dan diapit oleh Markas Marinir serta Hotel Aryaduta, tepatnya di Jalan Prapatan Satu, Senen, Jakarta Pusat.
Baca juga: Proyek Pembangunan Hingga Lokasi Demo Jadi Favorit Pedagang Starling Garap Pembeli
Gapura bertuliskan 'Selamat Datang Pedagang Kopi Keliling' akan menyambut warga yang baru tiba di Kampung Starling Senen.
Dan jalan selebar satubadan mobil sejauh sekitar 50 meter menjadi akses menuju Kampung Starling Senen.

Puluhan sepeda dengan dikalungi rencengan minuman kemasan terparkir berjajar rapi di sepanjang jalan kampung itu.
Sementara, empunya sepeda tampak sibuk menyiapkan barang dagangan mereka ke sepedanya seiring kumandang adzan waktu Salat Ashar.
Baca juga: Pedagang Sate Taican di Kawasan Senayan Ditertibkan Satpol PP
Tangan mereka mulai mencucuk es batu di atas sepeda dengan tusukan besi. Es batu diambil dari lemari es yang berderet di tepi Kali Ciliwung.
Deretan termos yang berjejer rapi, masing-masing dituang dengan rebusan air panas. Beberapa mie instan dalam cup dan teh celup ditata di sepeda.
Suara adzan Ashar menjadi petanda bagi mereka bersiap mengayuh sepeda menyusuri jalanan ibukota dan sejumlah tempat ramai warga. Mereka merupakan kelompok pedagang staling shift sore.
Baca juga: Satpol PP akan Beri Sanksi Tegas kepada Pedagang Sate Taican yang Nekat Berjualan di Trotoar

Sebagian besar pedagang staling di kampung itu sudah berangkat menggowes dengan peralatan lengkap menuju tempat berjualan.
Sebagian pedagang lainnya , sedangkan yang belum masih menyiapkan 'amunisi' bagi pelanggan.
Pemandangan hiruk pikuk itu berlangsung hampir setiap hari di Kampung Starling Senen.
Iwan Sakiman (59), Ketua RT di Kampung Starling menceritakan ada 10 agen dan sekitar 400 pedagang starling di kampung ini.
Agen ini merupakan bos yang memodali mereka untuk berdagang.
Baca juga: Rampok dan Lukai Wanita Pedagang Sembako di Cipulir, Mustain Mengaku Terlilit Utang Judi Togel
Misalnya, modal yang diberikan sekitar Rp 1,5 juta. Modal ini untuk biaya seperti minuman kemasan, rokok, es, dan air panas. Nanti modal ini bebas akan diangsur per minggu atau per bulan.

Kebanyakan pedagang starling di sana ialah para pendatang. Mereka berasal dari Kabupaten Sampang, Madura.
Di Jakarta, ada beberapa kampung starling yang besar. Salah satunya berada di kampung ini.
Setiap sepeda memiliki ciri khas agar dapat dibedakan dengan pedagang starling dari kampung lain.
Sepeda di Kampung Starling Senen memiliki kekhaasan boks berbahan fiber berlapis seng.
"Kalau di kampung lain, ada yang pakai keranjang buah atau sangke dan kayu," ujarnya di Kampung Starling Seneng.
Para pedagang Starling paling sering berjualan di sekitaran Jakarta Pusat. Mereka menyasar wilayah Senayan, Jalan Diponegoro, Taman Surapati, Lapangan Banteng sampai ke Kemayoran.
Baca juga: Menjelajah Kedai Kopi Legendaris di Cikini yang Dirintis Sejak Masa Kolonial Belanda
Setiba di tempat-tempat itu, bukan hanya pedagang Starling dari kampung Senen yang berjualan.
Ada beberapa pedagang starling dari kampung lain yang ikut berjualan. Mereka bersaing merebut hati pelanggan agar membeli kopi dan barang dagangan lainnya.
"Misalnya di Lapangan Banteng, itu beda-beda (grup). Ada yang dari Tanah Abang juga," tambahnya.
Cara merekrut

Tak sulit menjadi pedagang Starling di kampung itu.
Dalam merekrut pedagang baru, bos mengambil dari kenalan anggota starling. Biasanya, dari asal kampung yang sama.
Anggota itu menjadi penanggung jawab dari kenalan yang dibawanya. Bos akan memberikan modal untuk berdagang dan tempat tinggal.
Soalnya, bila bukan dari bawaan anggota sebelumnya, terkadang ada yang tidak bisa dipercaya.
"Takutnya sudah dikasih modal dibawa kabur uangnya. Banyak kejadian seperti itu," katanya.
Baca juga: Penertiban Pengamen Berujung Pemukulan Terhadap Anggota Satpol PP Kota Depok
Apesnya, anggota yang bertanggung jawab mengganti kerugian si bos.
Seorang pedagang starling mencucuk batu es sebelum berangkat berdagang di kampung Starling di Senen, Jakarta Pusat pada Rabu (22/9/2021). (TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas)
Sebagian besar dari Madura
Pedagang Starling mayoritas di kampung itu berasal dari Pulau Madura.
Menurut pedagang Starling, Slamet, kebanyakan orang Madura merantau karena kesulitan mencari nafkah di kampungnya.
Mereka mengadu nasib ke Jakarta, Surabaya, Kalimantan, Sumatera, Papua, hingga Malaysia dan Arab.
"Ketika jadi petani enggak sukses, jadi iseng-iseng lah mereka ke Jakarta. Salah satunya jadi Starling, ungkap pria asal Kabupaten Sampang itu.
Baca juga: Anak Buruh Bangunan Jadi Pembawa Baki Bendera Pusaka di HUT RI, Sukses Wujudkan Impian Sejak Kecil
Dari berdagang Starling ini, ia mampu menghidupi enak anaknya di kampung.
Pendapat yang sama juga disampaikan Iwan. Menurutnya, banyak orang Madura menjadi pedagang starling karena penghasilan yang terbilang besar.
Sebagai Ketua RT, Iwan juga memiliki tanggung jawab untuk membantu para pedagang yang terjaring satpol pp.
Tak jarang, mereka menjadi mangsa Satpol PP lantaran mangkal dan dinilai mengganggu ketertiban kota.
Iwan turun tangan untuk menjemput mereka yang diangkut Satpol PP.
"Saya bukan bos mereka, tapi saya membantu mengkoordinir mereka kalau ditangkep Satpol PP. Seperti menyiapkan Surat Keterangan Domisili atau memberikan masker," tambahnya.
Iwan menuturkan, pandemi Covid-19 turut berdampak kepada para pedagang starling. Apalagi, ketika diberlakukannya PPKM yang membuat mereka kehilangan banyak pelanggan.
Mereka berharap kondisi ini segera pulih agar roda perekonomian mereka kembali berputar mulus.