Sisi Lain Metropolitan
Proyek Pembangunan Hingga Lokasi Demo Jadi Favorit Pedagang Starling Garap Pembeli
Di kampung Starling alias Starbuck Keliling, tak semua pedagang berangkat pagi dan pulang sore hari.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Aji
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, SENEN - Di kampung Starling alias Starbuck Keliling, tak semua pedagang berangkat pagi dan pulang sore hari.
Mereka ada yang berangkat menjelang sore membelah jalanan Ibukota sampai subuh baru pulang ke kampung Starling.
Salah satunya, Slamet (43). Pria asal Sampang, Madura itu lebih suka dagang sore hingga malam hari.
Baca juga: Cerita Slamet, Pedagang Starling Senen: Dari Jual Rp 700 Perak per Gelas dan Pernah Ditusuk Pengamen
Ia tak jarang melewatkan momen panen rezeki seperti saat demonstrasi atau kegiatan besar lainnya di pusat kota.
Namun, Slamet tak terlalu memikirkannya.
Karena itu juga lah, Slamet pernah diomeli istrinya lantaran tak memanfaatkan momen itu untuk mencari nafkah.
"Kalau ada acara siang kan saya dagang malam. Jadi ada acara apa enggak tahu. Istri suka marah, kamu tidur melulu ini ada acara di KPU. Karena capek, jadi enggak didengerin sama saya," ceritanya saat ditemui TribunJakarta.com di kampung starling, Senen pada Kamis (23/9/2021).
Kendati demikian, ia mengaku masih bisa meraup untung lumayan sebagai pedagang starling yang berdagang di malam hari.
Barangkali karena sudah punya banyak pelanggan, Slamet lebih memilih gowes malam hari.
Baca juga: Melihat dari Dekat Aktivitas di Kampung Starling, Pedagang Kopi Keliling yang Menghiasi Ibu Kota
Ia biasanya mangkal di depan Kantor Pusat Pegadaian di Jalan Kramat Raya, tepatnya di samping Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Banyak karyawan di kedua kantor itu memesan aneka minuman saat sore hari.
Selain di sana, Slamet juga suka mendekat ke lokasi proyek di sekitarnya.

Sebab, lokasi proyek juga menjadi ladang rezeki buatnya.
Meladeni minuman untuk para kuli seusai kerja kasar.