Anak Pejabat Pajak Aniaya Pemuda

Soal Sikap Mario Dandy yang Kerap Pamer Kekayaan, Pengamat Sosial UI Jelaskan Hal Ini

Pengamat Sosial Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, mengatakan sejatinya tindakan pamer kekayaan ini sudah ada sejak tahun 1959 silam.

TRIBUNJAKARTA.COM/DWI PUTRA KESUMA
Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI), Devie Rachmawati, saat menjadi pembicara dalam dalam Program Pengabdian Masyarakat Memforward Manfaat berjudul Literasi Tangkal Infodemik : Gerakan Mencari Solusi di Tengah Pandemik di Gedung Pusgiwa UI, Beji, Jumat (14/8/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS - Kasus penganiayaan yang dilakukan anak eks pejabat pajak, Mario Dandy Satriyo (20), terhadap anak petinggi GP Ansor, Cristalino David Ozora, masih terus bergulir.

Kini, Mario bersama sejumlah rekannya telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Resort Metro Jakarta Selatan.

Kasus penganiayaan ini pun menguak sisi lain dari Mario, yang diketahui acap kali pamer harta kekayaan di sosial media.

Bahkan, saat ini publik mempertanyakan darimana seluruh sumber kekayaan yang dimiliki Mario dan keluarganya, meski diketahui ayah Mario adalah seorang pejabat pajak.

Menanggapi sisi lain Mario yang acap kali pamer harta, Pengamat Sosial Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, mengatakan sejatinya tindakan pamer kekayaan ini sudah ada sejak tahun 1959 silam.

Baca juga: Polisi Irit Bicara Soal Status AG Pacar Mario Dandy, Kabid Humas: Masih Menunggu

"Dari 1959 sudah ada ilmuan sosial yang mengatakan bahwa ketika kita hidup di dunia yang memang dipenuhi dengan kompetisi ekonomi, ditambah kalau konteks timur Indonesia, kita adalah masyarakat yang memang memiliki atau hirarki tingkat sosial," ujar Devie dikonfirmasi wartawan, Senin (27/2/2023).

"Setiap orang sebenarnya ingin berada ditingkatan atau status sosial yang tinggi. Salah satu cara untuk memastikan, org tau bahwa kita ini adalah orang yang status sosialnya tinggi, maka dari jaman dahulu sudah ada orang-orang yang memang sengaja menggunakan benda-benda yang bagus," timpalnya lagi.

Devie mengatakan, memiliki barang-barang yang mewah, bagi sebagian orang adalah sebuah cara untuk menunjukan bahwa mereka 'berbeda'.

"Kepemilikan barang-barang mewah, sebagai cara untuk menunjukkan bahwa dia adalah orang yang berbeda," pungkasnya.

Baca artikel menarik lainnya TribunJakarta.com di Google News

 
 
 
 


Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved