DPO Kasus Vina Cirebon Ditangkap

Sosok Eky di Kasus Vina Cirebon Diungkap Sahabat: Orangnya Nekat, Ugal-ugalan Naik Motor di Jalan

Sosok Muhammad Rizky Rudiana alias Eky baru-baru ini diungkap oleh sosok sahabatnya, Fransiskus Marbun (25). 

TRIBUNJAKARTA.COM - Sosok Muhammad Rizky Rudiana alias Eky baru-baru ini diungkap oleh teman satu tongkrongannya, Fransiskus Marbun (25). 

Menurutnya, anak semata wayang dari Iptu Rudiana tersebut suka mengendarai motor dalam kondisi kencang. 

"Almarhum dulu emang berani orangnya, dalam artinya nyetir motor itu ugal-ugalan gitu di jalan. Nyalinya gede," kata Fransiskus seperti dikutip dari Youtube Channel Dedi Mulyadi yang tayang pada Rabu (24/7/2024). 

Fransiskus mengaku pernah merasakan bagaimana ketika dia dibonceng oleh Eky

Eky mengendarai motor lebih ugal-ugalan ketimbang dirinya.

"Pernah (dibonceng) kenceng (bawanya). Lebih nekat Eky," tambahnya. 

Fransiskus bercerita dia dan Eky sesekali nongkrong di Warung SMA 4 Cirebon (Warpat) saat malam hari. 

Mereka nongkrong di warung tersebut sembari menenggak minuman keras anggur merah. 

Kala itu, Fransiskus mengenang Eky kerap membawa kekasihnya, Vina ke tempat tongkrongannya. 

"Cuma waktu itu pacaran sama Vina sering dibawa ke tongkrongan. Kalau jemput Vina, dia belum minum (miras). Kalau udah mau minum agak maleman, Vinanya dianterin dulu abis itu balik lagi ke tongkrongan," ucap Fransiskus. 

lihat fotoSusno Duadji Berang, Tegas Minta Lacak Hakim-hakim Sembrono Adili Kasus Vina Cirebon 2016 dan Seret ke Komisi Yudisial
Susno Duadji Berang, Tegas Minta Lacak Hakim-hakim Sembrono Adili Kasus Vina Cirebon 2016 dan Seret ke Komisi Yudisial

Namun, Fransiskus membantah kabar yang beredar liar bahwa Eky disebut-sebut masih hidup. 

Pasalnya, dia melihat langsung jenazah Eky ketika dimandikan. 

"Enggak lah (masih hidup). Soalnya saya melihat langsung jenazahnya dimandikan. Saya ngelihat bener-bener di ruang mayat kalau Eky (jenazah) lagi dimandikan," ujarnya. 

Bukan pembunuhan

Eks Kabareskrim, Komjen Pol (Purn), Susno Duadji tak yakin dengan peristiwa Vina Cirebon yang disebut sebagai kasus pembunuhan. 

Ia memiliki analisis tersendiri terkait dengan apa yang sebenarnya terjadi di balik tewasnya dua sejoli tersebut. 

Kapolda Jawa Barat (Jabar) periode 2008 tersebut bertanya-tanya terkait lokasi pembunuhan yang berpindah-pindah, seperti yang tertuang di putusan.

Lokasi pertama terjadi di Jalan Perjuangan di mana para pelaku melakukan pelemparan batu terhadap Vina dan Eky

Setelah dilempari batu, Vina dan Eky dipukul hingga terjatuh di lokasi kedua, jembatan fly over Talun.

Sementara lokasi terakhir di sebuah lahan kosong dekat SMPN 11 Cirebon, menjadi tempat para pelaku melakukan pemerkosaan terhadap korban. 

Setelah diperkosa dan dibunuh, Vina dan Eky dibawa kembali ke jembatan layang Talun. 

"Saya sebagai serse bertanya-tanya, kalau itu pembunuhan, perkosaan dilakukan bersama-sama ngapain dipindah-pindah begitu. Bukan kah akan banyak orang yang tahu," ujar Susno seperti dikutip dari channel Youtubenya, Susno Duadji yang tayang pada Minggu (21/7/2024). 

Ia juga meragukan kenapa kedua jenazah ditinggalkan begitu saja di atas jembatan. 

Berdasarkan saksi di TKP setelah ditemukan, korban Vina diketahui masih bernafas. 

"Kok masih hidup kengapa enggak dihabisin sekalian waktu itu, biar enggak ketahuan? Ini keganjilan dari TKP. Saya enggak tahu kenapa TKP-nya harus digeser ke tempat lain," tanya Susno lagi. 

Minim bukti

Susno melanjutkan tidak ada alat bukti yang menguatkan bahwa kasus ini merupakan pembunuhan. 

Alat bukti yang bisa didapatkan hanya lah keterangan saksi. 

"Saksi bernama Aep yang menurut saya ini sangat-sangat bohong. Kalau saya katakan 99 persen bohong," ujar Susno. 

Susno meragukan kesaksian Aep yang menyebut melihat pelaku dari jarak 100 meter dalam keadaan gelap. 

Aep juga mengaku tidak mengenal orangnya tetapi mengenal wajahnya secara jelas. 

"Kemudian tahu warna sepeda motor dan jenis sepeda motornya dari jarak 100 meter kemudian ditambah dengan kesaksian Dede," katanya. 

Selain keterangan saksi, alat bukti lain yang menunjukkan adanya tindakan pembunuhan tidak bisa ditunjukkan. 

Hasil visum bahkan tidak menyebutkan bahwa kedua korban meninggal tidak wajar, bukan karena ditusuk benda tajam. 

"Kemudian otopsi menyatakan hanya di belakang helm, di tengkuk, ada benturan dengan benda tajam. Bisa saja benturan dengan benda tajam itu benturan dengan trotoar," ujarnya. 

Susno juga menyoroti helm yang dikenakan korban tidak pecah tetapi darah menumpuk di kepala Eky

Artinya, tidak adanya tanda-tanda korban dipukul di bagian kepala. 

"Benturan kecelakaan lalu lintas, pakai helm, pertama lihat dulu standar helmnya. Bisa saja yang terbentur di bawah helm tengkuknya," ujar Susno. 

Terkait dengan terlihat adanya daging yang menempel di baut tiang penerangan jalan umum di jembatan layang Talun, Susno menduga daging itu berasal dari salah satu korban karena kecelakaan tunggal. 

"Daging itu kalau jadi masalah (dulunya) dibawa ke laboratorium, diambil DNA-nya, ini daging manusia apa daging hewan? Kalau (daging) manusia cocok sama dagingnya Eky atau cocok dengan dagingnya Vina menjadi tanda tanya kenapa daging bisa sampai situ?" tanya Susno. 

Alat bukti lain berupa CCTV dan ponsel pun tidak ada. 

Sidik jari yang tertinggal di batu atau senjata tajam pun setali tiga uang.

"Saya bercuriga kalau ini mau dijadikan pembunuhan, berat untuk buktikannya. Boro-boro untuk membuktikan siapa pelakunya, untuk membuktikan apakah peristiwa ini pembunuhan sulit tidak ada alat buktinya, selain keterangan saksi pembohong Aep dan Rudiana dan Dede," pungkasnya.  

Akses TribunJakarta.com di Google News atau WhatsApp Channel https://whatsapp.com/channel/0029VaS7FULG8l5BWvKXDa0f Pastikan Tribunners sudah install aplikasi WhatsApp ya

 

 

 

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved