Sisi Lain Metropolitan
Kenapa Spanduk Pecel Lele Dibuat 'Ngejreng'? Ini Kata Hartono, Sosok Pelukis Spanduk Pinggir Jalan
Hartono, nama pelukis spanduk pecel lele mengatakan bahwa warna-warna terang dipakai untuk mengakali warung di saat malam hari.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Septiana
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI SELATAN - Menjelang malam hari di ibu kota, penjual pecel lele mulai membentangkan spanduk dan mendirikan tenda di pinggiran jalan.
Deretan warung tenda pecel lele menghiasi sekitaran kota.
Namun, pernah kah Anda perhatikan mengapa spanduk pecel lele dilukis dengan warna terang alias 'Ngejreng"?
Ternyata, salah satu pelukis spanduk lele senior punya alasannya. Hartono, nama pelukis itu mengatakan bahwa warna-warna terang dipakai untuk mengakali warung di saat malam hari.

Soalnya, kalau hanya memakai warna standar, tulisan dan gambar di spanduk kurang menyala. Spanduknya juga terlihat biasa saja, tidak menarik perhatian.
"Untuk mengakalinya saya memakai warna terang sehingga kena lampu warung jadi terang," terangnya kepada TribunJakarta.com.
Bukan saja huruf dan gambar yang diwarnai dengan warna terang. Sisi tepi spanduk juga dikelilingi warna berwarna hijau stabilo.
Baca juga: Kecamatan Periuk Tangerang Masih Terendam Banjir Tinggi Sampai Sekarang, Ini Dugaan Penyebabnya
Baca juga: Bocah yang Hanyut di Kali Bintaro Ditemukan Tewas, Kakek Rela Tidak Tidur Menanti Kabar Sang Cucu
"Kenapa lis-nya (sisi tepi kain) berwarna hijau? ini sebenarnya untuk mengontraskan dengan lampu jalan. Rata-rata lampu trotoar berwarna oren, terpal tenda warnanya oren, huruf-huruf di spanduk warnanya oren. Kalau semua oren ketika malam nanti akan pucat. Warna hijau stabilo yang membikin kontras antara pencahayaan lampu jalanan dan spanduk," jelasnya.
Menurut Hartono, rata-rata pelukis pecel lele asal Lamongan menganut pakem tersebut. Hal itu yang membuat pelukis asal Lamongan memiliki ciri khas tersendiri.
"Ciri khas Lamongan itu suka warna gradasi dan suka warna ngejreng seperti warna hijau stabilo," pungkasnya.
Baca juga: Gubernur Anies Baswedan Janji Siapkan Santunan Bagi Korban Meninggal Dunia Akibat Banjir
Beberapa kali mendapatkan komplain
Selama menjadi pelukis spanduk pecel lele, Hartono (51) mengaku beberapa kali mendapatkan komplain dari pelanggan.
Pria asal Desa Ngayung, Kecamatan Maduran, Lamongan, Jawa Timur yang merantau ke ibu kota sejak tahun 1992 itu mau tak mau mengganti spanduk yang sudah dilukisnya.
Di kontrakan rumahnya di kawasan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Hartono bercerita bahwa pernah sebanyak 10 pelanggan yang datang mengeluhkan kondisi spanduk yang luntur.
Padahal, spanduk-spanduk pecel lele itu baru mereka beli.

Saat mengetahui warna cat yang mudah luntur, Hartono menduga kesalahannya berasal dari toko material yang disambanginya. Cat ekstendernya dioplos sehingga warna cat lekas luntur.
"Toko itu main-main, dibikin satu drum cat extender dioplos lagi," jelasnya kepada TribunJakarta.com.
Akhirnya, Hartono harus membuat ulang kesepuluh spanduk tersebut. Tak hanya itu pengalaman tak enak yang pernah dialami Hartono.
Selanjutnya, ia pernah mendapatkan oknum penjual jasa lukis spanduk yang memakai karyanya sebagai contoh portofolio.
Soalnya, jenama usahanya yang bernama HSP (Hartono Spanduk Pekayon) kini sudah ternama.
"Jadi si A (pelanggan) browsing di internet ada foto spanduk karya saya. Nah dia order, tapi hasil yang di internet sama hasil aslinya jauh banget. Orangnya datang ke saya. Saya jelaskan dia ternyata menghubungi bukan nomor hp saya," ceritanya.
Baca juga: Kampung Miliarder Tuban Kini Dijaga TNI-Polri 24 Jam, Ternyata Hal Ini Pemicunya
Hikmahnya, orang itu malah menjadi pelanggan baru Hartono semenjak peristiwa itu.
Salah Tulis Nama Paijo
Namun, ada lagi pengalaman yang murni kesalahan Hartono. Ia pun belajar dari kesalahan itu.
Kesalahan itu bermula saat Hartono menerima pemesan spanduk pecel lele atas nama Paijo.
Ia merasa bahwa nama Paijo merupakan nama jadul alias jaman dulu. Ada niat Hartono untuk menambahkan huruf D di antara nama itu.
"Pemahaman saya nama Paijo itu orang zaman dulu. Berarti hurufnya itu ejaan lama. Sebelum huruf J saya tambahkan D jadi Paidjo," ceritanya.
Eh, setelah spanduk tulisan rampung, inisiatif Hartono malah berujung komplain.
Baca juga: Juru Bicara PSI: Gagal Cegah Banjir, Gubernur Anies Harus Minta Maaf ke Warga Jakarta
Sebagai pemilik warung pecel lele, Paijo berkeberatan karena namanya nanti tidak sesuai dengan nama usaha di aplikasi layanan makanan.
"Orangnya komplain enggak mau nanti enggak sesuai dengan nama yang di-grab. Akhirnya dibuat lagi," lanjutnya.
Dari pengalaman itu, Hartono belajar bahwa inisiatif tak melulu menuai apresiasi, malah bisa membawa petaka bagi usahanya.
"Saya berkesimpulan kita mesti hati-hati enggak boleh gegabah itu juga jadi pelajaran buat saya. Harus benar-benar tahu maunya pelanggan seperti apa,"pungkasnya.
Ini Kisah Hartono, Pelukis Ribuan Spanduk Pecel Lele
Sebagian besar spanduk pecel lele karya Hartono (51) telah menghiasi berbagai daerah di Indonesia, bahkan sampai ke ujung Papua.
Dari sebuah rumah kontrakan sederhana seluas 3 x 12 meter, pria asal Desa Ngayung, Maduran, Jawa Timur itu telah menelurkan sekitar 4.000-an karya spanduk lukisan pecel lele.
Jumlah pengusaha pecel lele yang mengandalkan jasa lukisnya pun kian bertambah.
Baca juga: Hanya Atap Rumah yang Terlihat, Penampakan Kawasan Periuk Tangerang Masih Terendam Banjir 3,5 Meter
Hartono terlihat santai duduk di depan laptop sambil melihat-lihat desain spanduk pecel lele di rumah kontrakannya di kawasan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Bekasi.
Hari itu, pada Sabtu (20/2/2021) ia tampak senggang. Bila sedang ada pesanan, Hartono enggan menerima tamu lantaran waktunya banyak tercurahkan untuk menyablon dan melukis spanduk.
"Kalau saya ada tamu, biasanya saya cari waktu saat tidak sedang membuat spanduk. Soalnya, akan memakan waktu lama," ujarnya sambil menghembuskan asap rokok.
Hartono bercerita tentang masa lalunya saat merantau ke Jakarta pada tahun 1992. Ia tak langsung menjadi seorang pelukis spanduk pecel lele kala itu.
Ia bekerja ikut adik sepupunya yang membuka usaha warung sea food di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Hartono, yang saat itu masih bujang, juga menyambi pekerjaan lain ketika sedang tidak bekerja di tempat sepupunya itu.
Siang hari ia berada di Depok untuk mengais rezeki tambahan sedangkan malam harinya bekerja di warung sea food.
"Dari tahun 1992 sampai 1997 itu saya mondar-mandir Depok ke Pondok Pinang. Di Depok saya pernah jadi tukang minyak dan tukang buah. Malam bantuin saudara, siang dorong minyak atau jual buah dingin," ungkapnya.
Pada tahun 1997, ia memutuskan untuk berhenti ikut saudaranya. Hartono kemudian membuat usaha warung pecel lele sendiri.
Baca juga: Keluarga Jenazah Sopir Ojek Online Tewas di Kali Cideng Tolak Autopsi, Polisi Stop Penyelidikan
Namun, ia membutuhkan spanduk untuk warungnya. Hartono kemudian meminta tolong kepada temannya Teguh (51) di kampung.
Sesampainya di kampung, Teguh malah tak berkenan membuatkan spanduk pesanan dari teman dekatnya itu.
Ia malah menyarankan Hartono untuk membuat sendiri. Padahal, Teguh lah yang lebih dulu memulai usaha jasa lukis spanduk pecel lele.
Hartono menyangka Teguh tak ingin membantunya lantaran ia bisa melakukannya sendiri.
"Mungkin saya dulu juara Kabupaten, ngapain meminta bantuan. Jadi dia itu agak enggak enak," ceritanya.
Bila ditarik kembali ke masa kecilnya, Hartono dan Teguh merupakan teman satu SMP. Semasa sekolah itu, mereka berdua dikenal pintar melukis.
Hartono mengakui Teguh jago dalam melukis. Ia sempat menyabet juara Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) tingkat Kabupaten dari tingkat SD sampai SMP.
Ketika masuk SMA, mereka berpisah. Namun, Hartono dan Teguh bertemu di sebuah kompetisi lukis antar sekolah tingkat kecamatan.
Hartono pun berhasil menyabet juara pertama dan Teguh juara dua. Karena bakat dan prestasi ini yang barangkali Teguh menolak tawaran Hartono.
Teguh hanya menjelaskan cat-cat yang digunakan dan menyarankan Hartono untuk membuat sendiri.
Baca juga: Video Relawan Beratribut FPI yang Bantu Korban Banjir Dibubarkan Polisi: Kan Sudah Dilarang
Ternyata, hasil karya Hartono untuk usahanya sendiri menarik perhatian temannya di Paguyuban Keluarga Besar Ngayung (PKBN) Jabodetabek.
Ia disarankan untuk menjual jasa lukisnya kepada penjual pecel lele lainnya.
Selama berjualan pecel lele, Hartono juga terkadang melayani pesanan melukis spanduk pecel lele.
Total Melukis Spanduk
Pada tahun 2008, Hartono memutuskan untuk 'gantung wajan' dan beralih total menggeluti usaha jasa lukis spanduk pecel lele.
Sewa tempat yang mahal dan kewajiban mencukupi kebutuhan hidup dua anak buahnya menjadi pertimbangan Hartono untuk berhenti.
Ia beberapa kali pindah lapak warung pecel lele. Setiap pindah, usahanya seakan kembali dari nol.
"Ketika kita geser tempat, itu nanti kita dari awal lagi seperti kembali ke titik nol," lanjutnya.
Baca juga: Keluarga Jenazah Sopir Ojek Online Tewas di Kali Cideng Tolak Autopsi, Polisi Stop Penyelidikan
Ia juga memberanikan diri terjun di dunia lukis spanduk karena sudah banyak penjual pecel lele yang mengetahui keahliannya.
Bersama istrinya, Sriningsih (47), Hartono mulai merintis usaha tersebut.
Spanduk dibuat dengan dua teknik, sablon dan lukis. Teknik sablon untuk mencetak huruf sedangkan gambar-gambar hewan dilukis dengan cat.
Teknik melukis Hartono belajar secara otodidak. Ia sering melakukan survey ke berbagai spanduk pecel lele. Setelah itu, ia pelajari bentuk tulisan dan gambarnya.
Rata-rata spanduk pecel lele hanya awet selama dua tahun. Lebih dari itu biasanya sudah rusak dan kusam. Menurut Hartono, yang belajar dari pengalamannya berdagang, penjual pecel lele biasanya menyimpan spanduk ala kadarnya saja. Padahal, spanduk itu penting untuk sebuah jenama usaha.
"Ketika udah malam kan capek. Jadi kadang-kadang main gulung aja. Diikatnya asal-asalan. Akhirnya besok jamuran, kalau termasuk orang yang rajin setelah kehujanan sarungnya itu direndam di bak dan dijemur," jelasnya.
Ia juga menggunakan cat berwarna 'ngejreng' untuk warna tulisan dan gambar di spanduk agar terlihat mencolok dan menyala di malam hari.
Soal warna ini, lanjut Hartono, sebagian besar pelukis pecel lele asal Lamongan memakai pakem ini.
Baca juga: Hanya Atap Rumah yang Terlihat, Penampakan Kawasan Periuk Tangerang Masih Terendam Banjir 3,5 Meter
"Kalau kita pakai warna standar saja itu tidak menyala kalau malam. Untuk mengakalinya pakai warna terang. Kena lampu warung itu jadi terang. Di pinggir spanduk dikasih kain lis dengan warna stabilo agar terlihat kontras juga," lanjutnya.
Sudah Lukis 4.000-an
Sejak 2008 hingga sekarang, Hartono sudah melukis sekitar 4.427 spanduk dengan beragam ukuran.
Ia selalu mencatat order yang masuk di sebuah buku panjang sejak 2008.
Kebanyakan pelanggannya datang dari penjual pecel lele. Hanya beberapa saja yang berasal dari penjual sea food dan lainnya.
Soal harga, ia mematok Rp 130 ribu per meter. Spanduk yang dipesan pun beragam ukuran. Spanduk terpanjang yang pernah dibuatnya mencapai 25 meter.
Dalam sebulan, ia biasanya menghabiskan sekitar 280 meter sampai 300 meter spanduk.
Pelanggan pun banyak yang berasal bukan saja dari dalam kota, tetapi juga luar kota.
Baca juga: Siapa Pelukis Spanduk Pecel Lele Pinggir Jalan? Sosoknya Dikenal dari Aceh Sampai Papua
"Dari Aceh sampai Papua, pokoknya sebagian besar Pulau Indonesia sudah masuk semua. Saya pernah kirim ke Sentani, Papua. Ongkirnya saja Rp 1,3 juta," ujarnya.
Bisnis di Tengah Pandemi
Meski pandemi Covid-19 membuat banyak bisnis seret, tetapi tidak demikian bagi Hartono.
Pesanan demi pesanan mampir di ponselnya itu. Ia mengaku pendapatannya sempat tertunda sesaat di awal pandemi.
Pesanan baru diambil dua bulan setelah jadi lantaran warung pecel lele tutup total.
Kendati demikian, masih banyak penjual pecel lele baru yang memesan kepadanya. Bahkan, seorang aktor tanah air, yang baru merintis usaha baru pecel lele, memesan spanduk kepadanya.
Baca juga: Hanya Atap Rumah yang Terlihat, Penampakan Kawasan Periuk Tangerang Masih Terendam Banjir 3,5 Meter
"Pengusaha-pengusaha pecel lele yang baru banyak yang berdatangan. Hari ini aja ada empat spanduk tiba-tiba pesen. Enggak tahu mereka dapat nomer darimana. Biasanya nyari di google," pungkasnya.