Breaking News:

Antisipasi Virus Corona di DKI

Antisipasi Calo Main Harga Kremasi Jenazah Covid-19, Krematorium Cilincing Tawarkan Paket Rp 10 Juta

Krematorium Cilincing, Jakarta Utara, memiliki langkah tersendiri untuk mengantisipasi calo maupun oknum yang menaikan harga kremasi jenazah Covid-19.

Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Wahyu Aji
ISTIMEWA
Suasana terbaru di Krematorium Cilincing, Jakarta Utara, yang sudah mulai menerima jenazah Covid-19, Minggu (18/7/2021). 

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerima keluhan warganya perihal paket kremasi jenazah yang biayanya mencekik.

Laporan warga tersebut disampaikan pada Senin (12/7/2021).

Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta, Suzi Marsitawati, saat diwawancarai Wartawan, di Balai Kota Jakarta, Kamis (26/12/2019).
Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta, Suzi Marsitawati, saat diwawancarai Wartawan, di Balai Kota Jakarta, Kamis (26/12/2019). (TribunJakarta.com/Muhammad Rizki Hidayat)

Kemudian, petugas Palang Hitam Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) Provinsi DKI Jakarta hanya memberikan informasi kepada rumah sakit dan pihak keluarga terkait lokasi kremasi swasta yang menerima jenazah Covid-19 di luar Jakarta.

"Petugas kami hanya menginformasikan krematorium di Jakarta tidak menerima kremasi jenazah Covid-19 dan yang dapat menerima, krematorium di luar Jakarta,” kata Kepala Distamhut Provinsi DKI Jakarta, Suzi Marsitawati sebagaimana dikutip dari laman resmi ppid.jakara.go.id, Minggu (18/7/2021).

"Kami telah menelusuri bahwa pada tanggal 12 Juli 2021, petugas kami tidak ada yang mengantar jenazah kremasi ke luar Jakarta," lanjut dia.

Baca juga: Bantu Kremasi Jenazah Umat Hindu yang Terpapar Covid-19, Kayu Bakar Dikirim ke Krematorium Cilincing

Baca juga: FATAL Jenazah Bisa Tertukar, Jasad Umat Muslim Terlanjur Dikremasi, Pihak Rumah Sakit Diperiksa

Menurut Suzi, jenazah yang dikremasi itu berada di Karawang dan dibawa oleh pihak keluarga terkait.

Guna mencegah adanya calo dan korban berikutnya terhadap kremasi, Suzi mengimbau kepada Yayasan Kremasi agar bersurat ke rumah sakit perihal penjadwalan kremasi beserta tarifnya. 

"Agar tidak terjadi tawar-menawar di lapangan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab atau oknum yang merugikan masyarakat," jelas Suzi.

Masyarakat diminta mencatat nama, mengambil foto wajah, dan melaporkan kepada Pemprov DKI Jakarta jika menemukan oknum yang mengaku petugas Distamhut Provinsi DKI Jakarta dan meminta uang.

"Jika oknum tersebut benar pegawai kami, Pemprov DKI Jakarta akan menindak tegas," ucap Suzi.

"Jika bukan pegawai, Pemprov DKI Jakarta akan melaporkan ke Kepolisian untuk proses lebih lanjut," tutupnya.

Sebelumnya pula, ada seorang warga yang ingin mencari krematorium untuk ibunya yang meninggal karena Covid-19.

Kemudian, ia mengeluh ada orang yang mengaku petugas dari Dinas Pemakaman menawarkan paket kremasi dengan biaya Rp 48,8 juta di Karawang.

Selain itu oknum petugas juga meminta warga tersebut untuk cepat memutuskan karena ada RS lain yang akan mengambil slot kremasi itu.

Warga pun terkejut dan mencoba menghubungi hotline berbagai Krematorium di Jabodetabek.

Namun kebanyakan tidak diangkat sementara yang mengangkat jawabnya sudah penuh.

Karena didesak RS agar jenazah bisa segera dipindahkan, akhirnya pihak keluarga putuskan memilih yang di Karawang.

Nyatanya warga tersebut malah mendapat jawaban paket kremasi yang sebelumnya ditawarkan sudah diambil orang lain.

Tak lama kemudian oknum petugas itu menelepon dan mengabarkan sudah mendapatkan slot untuk 5 hari kedepan, di krematorium pinggir kota dengan harganya Rp65 juta.

Akhirnya warga tersebut pun menduga kartel telah menguasai jasa mengkremasi keluarga korban Covid-19 dengan tarif Rp 45 sampai Rp 65 juta. (*)

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved