Pemuda Indonesia, Nation Branding, dan Indonesia Emas

Di tahun 2045, Indonesia akan berusia 100 tahun alias satu abad. Pada tahun tersebut, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi.

Editor: Muji Lestari
Istimewa
Imam Nuraryo, Dekan Fakultas Komputer dan Komunikasi, Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie (IBIKKG). 

Dari 118 branding negara yang diukur FutureBrand 2014-2015, Indonesia ada di peringkat ke-66, dengan lima besar ditempati oleh Jepang, Swiss, Jerman, Swedia, dan Kanada.

Sementara itu, data The Good Country Index 2016 menempatkan Indonesia di posisi ke-77 dari 163 negara dengan lima teratas diduduki Swedia, Denmark, Belanda, Inggris Raya, dan Swiss. Jumlah wisatawan Indonesia yang mencapai 10 juta orang tahun lalu, jauh di bawah Singapura (15 juta), Malaysia (26 juta), dan Thailand (30 juta).

Saat itu mungkin kesadaran akan perlunya meningkatkan Citra Indonesia belumlah tinggi seperti saat ini. Slogan yang ada saat itu yakni promosi sektoral, yakni ‘Wonderful Indonesia’ di bidang pariwisata, ‘100 persen Indonesia’ di bidang Industri, serta ‘Remarkable Indonesia’ di bidang perdagangan dan Investasi.

Ranking Indonesia terendah di antara pesaing utama, dengan titik lemah ada pada unsur manusia (ramah, tapi skornya tidak tinggi untuk masalah yang berkait dengan ketenagakerjaan) dan budaya (skornya baik untuk warisan budaya tapi lemah dalam olahraga/budaya kontemporer).

Tahun selanjutnya, citra nasional atau reputasi negara (nation branding) Indonesia diharapkan semakin meningkat jika humas pemerintah sukses dalam melaksanakan komunikasi publik Keketuaan ASEAN 2023.

Berkaca pada kesuksesan pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali pada akhir 2022 lalu. 

Dirjen Kominfo, Usman Kansong mengungkapkan, survei yang dilakukan salah satu lembaga internasional menunjukkan nation branding Indonesia naik delapan poin sehingga membuat Indonesia menempati posisi 60-an dari 100 negara.

Posisi itu diyakini akan semakin meningkat jika dilakukan survei kembali setelah kesuksesan Keketuaan G20 Indonesia, karena sulit dicapai oleh anggota G20 lain, khususnya India yang saat ini telah mulai menjalankan tongkat estafet Keketuaan G20.

Pada tahun 2021, berdasarkan data yang dirilis dalam Anholt-Ipsos Nation Brand Index, Indonesia naik tingkat berada di peringkat 43 dari 60 negara.

Dalam hal itu, ada lima kategori yang menjadi keunggulan Indonesia, yakni Open for Business (keterbukaan bisnis) di peringkat 22, Memiliki kekayaan budaya, sejarah, kuliner di peringkat 26, Pertumbuhan pendapatan perkapita yang kian membaik, di peringkat 27, dan Adventure (petualangan) di peringkat 32 dan Quality of Life (hidup berkualitas) di peringkat 35.

Kelima aspek itu, katanya, merupakan kekuatan Indonesia yang diakui secara internasional dan bisa dimanfaatkan untuk membangun kembali sektor pariwisata. Oleh karena itu, pemuda sebagai bagian dari penduduk Indonesia perlu memperkuat nation branding Indonesia dengan menonjolkan keunggulan-keunggulan tadi mulai saat ini dan untuk masa mendatang.

Menurut Usman Kansong, citra positif di mata internasional tidak cukup dibentuk dengan kata-kata, karena harus ada keyakinan dan menunjukkan bukti nyatanya.
Pemuda Indonesia perlu menyiapkan narasi nation branding (membangun identitas negara) Indonesia yang positif.

Diharapkan jangan hanya sekedar Menyusun jargon-jargon atau slogan-slogan saja namun diiringi dengan kerja nyata. Nation branding Indonesia di mata dunia, misalnya dalam forum G20, memegang peran penting untuk menciptakan nilai lebih dibanding negara lain.

Membentuk Nation branding bukanlah sekedar jargon atau slogan tetapi citra yang kuat sehingga Indonesia memiliki nilai lebih dibandingkan negara lain.
Jarang sekali kepala pemerintahan atau kepala negara di periode kedua tingkat akseptabilitasnya, approval istilahnya, 70 sampai 80 persen itu jarang sekali, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Presiden Joko Widodo yang sempat mengeluhkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang masih rendah pada 2018 lalu.

Pemuda sebagai  generasi penerus bangsa, dapat memosisikan beberapa peran pemuda Indonesia yang dapat dilakukan untuk mem-branding negara kita secara positif, antara lain sebagai berikut:

Pertama, Agen Perubahan. Peran pemuda yang pertama dapat dilihat dari peran pemuda sebagai agen perubahan.  Hal ini dapat diwujudkan dengan pemuda ikut mendukung perubahan-perubahan dalam lingkungan masyarakat, baik secara nasional maupun daerah, menuju kepada arah yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang.

Misalnya menjadi pemuda penggerak kebersihan lingkungan seperti apa yang telah dilakukan oleh Pandawara Grup. Kemajuan bangsa dapat dilihat dari keberhasilan pemudanya untuk  melakukan perubahan-perubahan positif yang dapat dilakukan dan menaklukan segala tantangan yang akan dihadapi.


Kedua, Agen Pembangunan. Selain menjadi agen perubahan, peran pemuda juga sebagai agen pembangunan yang mana pemuda Indonesia memiliki peran dan tanggung jawab dalam upaya melancarkan atau melaksanakan berbagai macam pembangunan di berbagai macam bidang, baik pembangunan secara nasional maupun pembangunan daerah.

Contoh nyata yang dilakukan oleh pemuda-pemuda Indonesia yang sukses membangun start up  yang juga memberi dampak pada pembukaan lapangan kerja.

Agen pembangunan disini bukan hanya sebatas pembangunan secara fisik maupun non fisik, tetapi juga menyangkut juga kemampuan pengembangan potensi generasi muda lainnya. Potensi dan produktifitas yang ada di diri para generasi muda perlu dikembangkan demi mencapai tujuan pembangunan bangsa Indonesia.
Ketiga, Agen Pembaharuan.

Peran yang selanjutnya adalah  menjadi agen pembaharuan bangsa Indonesia. Artinya pemuda Indonesia harus memiliki kemampuan dalam menganalisis perubahan zaman sehingga mereka dapat memilih mana yang memang perlu untuk dirubah dan juga mana yang seharusnya dipertahankan.

Generasi yang cerdas dan mau menerima perubahan harus diterapkan sejak dini menuju impian Indonesia menjadi generasi emas 2045 yakni;  Memiliki kecerdasan yang komprehensif, yakni produktif, inovatif, Damai dalam interaksi sosialnya, dan berkarakter yang kuat, Sehat, menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan Berperadaban unggul.
Namun demikian, pemuda Indonesia perlu mempertimbangkan tiga krisis utama dalam menghadapi tahun 2045 dan implikasinya terhadap pembentukan Nation Branding yakni; krisis energi, krisis pangan, dan krisis inflasi.

Maka dari itu, dia meminta agar para generasi muda untuk bersiap dengan seluruh kemampuan dan kompetensi yang dimiliki serta peka terhadap krisis.

Pemuda Indonesia punya kepekaan global terhadap tiga krisis itu, Bentuk nyata peran Pemuda terhadap lingkungan hidup, yaitu menciptakan lingkungan yang bebas dari sampah, menjaga kelestarian hutan, mengurangi polusi udara, melestarikan habitat satwa dan floranya, serta terus menerus berkampanye tentang pelestarian lingkungan melalui media sosial maupun media Informasi lainnya.

Agar memahami pentingnya keberlangsungan lingkungan, harus ditanamkan sejak dini bahkan sejak masih Sekolah Dasar, menggali potensi pemuda yang siap menjadi pemimpin publik yang menaruh perhatian pada kesenjangan ekonomi alias kemiskinan, pemerataan pendidikan dan masalah intoleransi.

Kesenjangan ekonomi atau masalah kemiskinan tetap menjadi masalah utama bangs aini dan memiliki pengaruh pada Nation Branding Indonesia. Sudah 78 tahun Indonesia merdeka, akan tetapi kesenjangan tetap bertahan, bahkan angka kemiskinan meningkat.

Penyebabnya adalah ketimpangan ekonomi di Indonesia telah terlanjur mengakar kuat dalam semua lini kehidupan—yang kian menjauhkan bangsa ini dari tujuan mulia para pendiri republik ini. Jika merujuk dari data, dari Badan Pusat Statistik, Persentase penduduk miskin pada Maret 2023 sebesar 9,36 persen, sebesar 25,90 juta orang.

Persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan lebih tinggi di desa (13,20 persen) dibandingkan di kota (7,02 persen). Kesenjangan ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi dan kesejahteraan di desa cenderung lebih buruk dibandingkan dengan kota, setidaknya pada periode tersebut.

Gap ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti akses terhadap pekerjaan yang layak, akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta tingkat pengembangan infrastruktur antara daerah desa dan kota.

Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi tingkat pendapatan dan kualitas hidup penduduk di masing-masing wilayah.  Menurut World Inequality Report 2022, yang dikutip dari Katadata.co, bahwa di dua dekade terakhir ketimpangan ekonomi di Indonesia tidak mengalami perubahan signifikan.

Dalam Laporan tersebut tercatat periode 2001-2021, sebanyak 50 persen penduduk Indonesia hanya memiliki kurang dari 5 persen kekayaan rumah tangga nasional (total household wealth).

Sedangkan 10 persen penduduk lainnya memiliki sekitar 60 persen kekayaan rumah tangga nasional sepanjang periode yang sama. 

Laporan tersebut memberikan gambaran yang menarik mengenai distribusi kekayaan di Indonesia selama dua dekade terakhir.

Distribusi kekayaan yang tidak berubah secara signifikan selama dua dekade terakhir dapat memiliki dampak yang kompleks terhadap masyarakat dan ekonomi secara keseluruhan. Kesenjangan ekonomi yang persisten dapat menyebabkan sejumlah masalah, termasuk ketidaksetaraan dalam akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang ekonomi. Ini bisa mempengaruhi stabilitas sosial dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Selanjutnya yang kedua adalah ketimpangan dalam pendidikan. Sejatinya, pendidikan yang berkualitas adalah landasan penting dalam membentuk generasi yang cerdas, kreatif, dan inovatif. Pendidikan yang baik akan membantu mengembangkan potensi dan kemampuan anak-anak, serta memberi mereka pemahaman yang mendalam tentang berbagai aspek kehidupan. 

Pendidikan tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, kolaborasi, dan komunikasi yang efektif. Lingkungan belajar yang mendorong eksplorasi, kreativitas, dan pengembangan karakter yang positif sangat penting.

Menurut data BPS 2020, tingkat pendidikan penduduk Indonesia masih didominasi oleh pendidikan menengah. Setiap 100 penduduk yang berusia 15 tahun ke atas, sebanyak 29 orang menyelesaikan pendidikan sekolah menengah, sementara hanya 9 orang  berhasil lulus pendidikan di perguruan tinggi.

Hal ini menunjukkan bahwa tingkat partisipasi dalam pendidikan tinggi masih relatif rendah di Indonesia, dibandingkan dengan tingkat pendidikan menengah.

Faktor-faktor seperti aksesibilitas, biaya, dan kesadaran mengenai manfaat pendidikan tinggi mungkin berkontribusi terhadap fenomena ini. Penting untuk terus mendorong peningkatan pendidikan di semua tingkatan, termasuk pendidikan tinggi, untuk memperkuat sumber daya manusia suatu negara dan mendorong pertumbuhan ekonomi serta perkembangan sosial.

Data ini terbilang ironis, pasalnya, dalam laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Population, Education and Development: The Concise Report menyebutkan bahwa secara keseluruhan menggarisbawahi pentingnya pendidikan dalam mencapai pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat.

Pendidikan bukan hanya tentang peningkatan kualitas hidup individu, tetapi juga memiliki dampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sosial suatu negara. Dengan demikian, Laporan PBB tersebut menekankan bahwa pendidikan memiliki peran krusial dalam proses pembangunan nasional.

Melalui pendidikan yang berkualitas, masyarakat dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang diperlukan untuk berkontribusi pada pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya negara mereka.

Lebih jauh lagi, pendidikan juga memberikan individu pengetahuan dan keterampilan yang dapat meningkatkan peluang mereka dalam mencari pekerjaan yang layak, meningkatkan taraf hidup, dan mencapai kesejahteraan ekonomi.

Selain itu, pendidikan juga dapat membantu meningkatkan kesadaran akan kesehatan, gaya hidup yang sehat, serta memberikan akses ke informasi yang relevan bagi kehidupan sehari-hari. Sementara itu, bila tak mampu mengelola usia produktif ini, maka yang akan terjadi adalah bonus demografi yang memberatkan, terutama di usia kerja.

Berdasarkan data, Organisasi Buruh Internasional (ILO) tercatat sekitar 5,8 juta angka pengangguran. Catatan BPS, menyatakan per Agustus 2022, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 8,4 juta, porsinya 5,86 persen dari total angkatan kerja nasional.

Berdasarkan data, pengangguran paling banyak berasal dari kelompok usia 20-24 tahun, yakni 2,54 juta orang. Kemudian, disusul oleh penduduk usia 15-19 tahun sebanyak 1,86 juta jiwa (22,03 persen), penganggur usia 25-29 tahun 1,17 juta jiwa (13,84 persen), usia 30-34 tahun 608,41 ribu jiwa (7,22 persen), dan usia 60 tahun ke atas 485,54 ribu jiwa (5,76 persen).

Sejatinya Pemuda Indonesia perlu memikirkan bagaimana untuk mengatasi masalah pengangguran, apa saja Langkah-langkah yang harus ditempuh, termasuk pengembangan keterampilan, pelatihan, menciptakan lapangan kerja baru, serta peran pendidikan ke pekerjaan.

Pemuda Indonesia memiliki peran penting dalam mengatasi masalah tersebut. Untuk mewujudkan Indonesia Emas, harus bertekad untuk mengangkat masalah pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.

Jika hal ini tidak diantisipasi, maka impian negara maju hanya akan tinggal manis di mulut saja. Peran pemuda saat ini diharapkan tidak saja mengandalkan program dari pemerintah, namun dapat mengoptimalisasi karya kreatif dan memberdayakan melalui pendidikan luar sekolah yang outputnya dapat direkognisi dan diakui Masyarakat.

Ketiga, meningkatnya intoleransi di Indonesia. Beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi tantangan serius terkait intoleransi dan minimnya jaminan kebebasan beragama. Pemuda Indonesia juga perlu concern pada narasi-narasi intoleransi.

Salah satu akar penyebab utama intoleransi di Indonesia adalah politisasi agama. Di tengah dinamika politik yang semakin kompleks, beberapa kelompok telah memanfaatkan sentimen agama untuk mendukung tujuan politik mereka. Hal ini telah menciptakan iklim yang memungkinkan retorika intoleran untuk merasuki masyarakat, memecah belah kesatuan dan harmoni yang telah lama menjadi ciri khas Indonesia.


Laporan International NGO Forum on Indonesian Development, yang berjudul Intoleransi dan Diskriminasi dalam Beragama: Studi Kasus Peraturan  Perundang-Undangan di Tingkat Nasional dan Daerah, menyebutkan terdapat berbagai regulasi atau produk hukum atau kebijakan yang bersifat intoleran dan  diskriminatif, baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah, baik yang  dilatarbelakangi oleh kepentingan politik sesaat maupun konservatisme  beragama.

Regulasi ini secara nyata digunakan baik  langsung maupun tidak langsung untuk melegitimasi serangkaian perilaku intoleran di tanah air.

Mulai dari stigma sosial kepada individu atau komunitas tertentu, persekusi, hingga main  hakim sendiri atau kekerasan terhadap kelompok minoritas.  Potensi intoleransi dan diskriminasi di tanah air juga akan semakin besar manakala mendapat legitimasi secara hukum.

Produk hukum intoleran dan diskriminatif ini jika dibiarkan akan menjadi bom waktu yang berpotensi  menyebabkan konflik sosial antar etnik, agama, dan merobek jalinan kebangsaan yang telah terajut di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Lebih lanjut, dalam penelitian ini juga ditemukan sepanjang tahun 2000 hingga 2020 terdapat 227 Peraturan dan Kebijakan Daerah yang dianggap intoleran dan diskriminatif.  Dari jumlah tersebut, paling banyak Perda dan peraturan kebijakan yang terbit di wilayah provinsi Jawa Barat (89 peraturan).

Kemudian Sumatera Barat (26 peraturan). Ketiga, Kalimantan Selatan (17 peraturan), lalu menyusul Sulawesi Selatan (16 peraturan), DI. Yogyakarta (14 peraturan), NTB (13 peraturan), Jawa Timur (12 peraturan), dan Aceh (7 peraturan).

Dari data lain, SETARA Institute, mencatat sekitar 2.758 peristiwa dan 3.896 tindakan terkait dengan pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan.

Yang menarik dari penelitian ini adalah banyaknya aktor terlibat dalam pelanggaran KBB, baik itu melibatkan negara dan non negara.  Misalnya, dari aktor-aktor negara yang paling banyak terlibat dalam peristiwa pelanggaran KBB adalah Kepolisian (488), Pemerintah Daerah (147), Satpol PP (119), dan TNI (78).  

Peran pemuda dalam mewujudkan Indonesia 2045 yang masih tetap utuh dalam bingkai NKRI, jelas tidak dapat diabaikan. Pemuda merupakan pilar utama dalam pembangunan berkelanjutan dan pencapaian visi besar negara.

Pemuda memiliki peran kunci dalam membentuk arah kepemimpinan Indonesia di masa depan. Mereka adalah pewaris nilai-nilai bangsa, dan tanggung jawab untuk memastikan kelangsungan dan pengembangan nilai-nilai tersebut berada dalam tangan mereka.

Pemuda kelak akan menjadi pemimpin bangsa ini di masa mendatang. Mereka perlu memiliki sifat kepemimpinan yang matang dalam menjaga keutuhan bangsa ini yang multikultur, yang pada kahirnya membawa citra positif kita sebagai bangsa yang utuh Bersatu. Kepemimpinan yang baik perlu didasarkan pada integritas, etika, dan semangat berdikari.

Dalam menghadapi kompleksitas tantangan global, seperti perubahan iklim, kesenjangan sosial, dan revolusi teknologi, pemuda perlu menjadi agen perubahan. Mereka bisa melalui partisipasi aktif dalam organisasi kemasyarakatan, kegiatan sosial, dan politik yang bertujuan memajukan kepentingan masyarakat.

Melalui pemahaman mendalam terhadap masalah-masalah yang dihadapi, mereka bisa merumuskan solusi-solusi inovatif dan memberikan dampak positif bagi banyak orang. Selanjutnya, pemuda memiliki peran penting dalam menjaga perdamaian dan mempromosikan toleransi di tengah Masyarakat Indonesia yang beragam.

Nilai-nilai luhur bangsa kita mengajarkan pentingnya hidup berdampingan secara harmonis dengan semua lapisan masyarakat, tanpa memandang suku, agama, atau ras. Pemuda Indonesia diharapkan menjadi pelopor dalam membangun persaudaraan antarumat beragama dan suku di Indonesia.

Bagaimana generasi Z Indonesia akan mengambil alih tanggung jawab dalam meneruskan perjuangan politik, sosial, atau budaya yang telah dimulai oleh generasi sebelumnya.

Dalam konteks sejarah, banyak perjuangan penting seperti perjuangan kemerdekaan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan sebagainya telah dimulai oleh generasi sebelumnya, dan kemudian diteruskan oleh generasi muda. Mereka meneruskan semangat, nilai-nilai, dan tujuan dari perjuangan tersebut agar dapat mencapai hasil yang diinginkan.

Diperlukan adanya upaya bersama seluruh komponen bangsa untuk memastikan bahwa nilai-nilai perdamaian, saling menghormati, akhlak mulia, toleransi, dan keadilan, agar melekat erat di diri generasi muda saat ini. Kita-kita yang saat ini sudah berusia 40 tahunan keatas, perlu menyiapkan generasi muda untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Kita jaga negara ini, kesatuannya, keutuhannya dan tetap negara ini harus menjadi negara yang demokratis.

Salah satu peran nyata yang dapat diberikan oleh pemuda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045 adalah memberi inspirasi kepada pemuda lainnya untuk dapat belajar dan berkarya sebaik mungkin.

Melalui sumber daya manusia yang memiliki kualitas, kemampuan, melalui Pendidikan, akan melahirkan pemuda-pemudi yang memiliki cara berpikir yang inovatif, transformatif, dan mempunyai keterampilan. Dengan demikian, pemuda Indonesia akan memperoleh kesadaran bagaimana cara menjaga keutuhan bangsa ini dengan karya-karya mereka yang akan membawa citra yang positif bangs akita sebagai bangsa yang memiliki martabat diantara bangsa-bangsa lain.

Pada tahun 2045, Indonesia akan memasuki pertengahan abad ke-21, yang akan ditandai dengan berbagai macam situasi yang sulit diprediksi, kemungkinan perekonomian dunia akan semakin terbuka melintasi batas batas negara.

Batasan-batasan negara melebur menjadi Batasan regional seperti Uni Eropa, Masyarakat Ekonomi ASEAN, Pan Amerika, dan lain sebagainya. Bahkan dengan bantuan teknologi komunikasi dan informasi. Batasan-batasan ini bisa menghilang.

Pertumbuhan ekonomi di Eropa bisa ditopang oleh produksi yang berlangsung di Asia, demikian juga sebaliknya. Kecenderungan pertumbuhan ekonomi juga akan bergeser kepada negara-negara diluar Eropa dan Amerika, Brazil, Rusia, India dan China akan menjadi kekuatan ekonomi utama baru yang diperkirakan akan menempati 10 besar ekonomi dunia.

Indonesia sendiri, sejak beberapa tahun silam sudah dikategorikan sebagai negara berkembang dengan tingkat perekonomian yang cukup diperhitungkan secara global.
Kemajuan Ekonomi Negara yang ditopang oleh kemajuan teknologi dan pengetahuan, juga ditandai dengan berbagai macam tantangan seperti pemanasan global.

Dunia akan mengalami pemanasan global/perubahan iklim dengan peningkatan suhu sekitar dua derajat Celsius bahkan lebih. Selain itu, dunia juga akan menghadapi berbagai persoalan ketersediaan energi, makanan dan air bersih. Secara sosial, tantangan terhadap identitas budaya dan bangsa menjadi persoalan tersendiri yang sedang memanas di Indonesia ini.

Selanjutnya, bagaimana para pemuda bisa mempersiapkan diri menjadi bagian dari generasi Indonesia Emas 2045 yang mampu mengatasi persoalan tersebut?

Sebagai mana yang telah disebutkan, bahwa persaingan terhadap penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, untuk membantu pemerintah dalam upaya mewujudkan peran pemuda dalam menyukseskan Indonesia Emas tahun 2045 di bidang ekonomi, juga dibutuhkan peningkatan nilai moral yang harusnya merupakan dasar dari setiap tindakan yang akan dilakukan.

Penguasaan teknologi dan pengetahuan bukanlah satu-satunya senjata menghadapi masa depan. Lalu apa yang menjamin Indonesia Emas 2045? Generasi muda yang sehat, punya jati diri, memiliki sikap dan prinsip yang Tangguh, memiliki nilai-nilai spiritual dan budaya yang tinggi menjadi modal untuk mampu memenangkan masa depan.

Oleh karena itu, pemuda juga harus senantiasa mengasah akar budaya dan sikap mencintai bangsa dan negara. Beberapa hal yang berkait dengan sikap dan perilaku pemuda Indonesia, yang perlu diwaspadai, agar tidak menjadi ancaman bagi pemuda Indonesia untuk dapat berkembang dan berkarakter.

Di antaranya adalah Ancaman narkotika dan obat-obatan terlarang, rentan dalam provokasi, serta aksi perundungan.
Pemuda Indonesia juga harus menjauhkan diri dari segala ancaman yang dapat merusak pribadi maupun bangsa. Salah satunya dalam kasus narkoba. Narkoba telah menjadi wabah yang tidak hanya bisa merusak sebuah pribadi tetapi sebuah generasi.

Oleh karena itu, pemuda harus menjauhkan diri dari unsur-unsur yang dapat merusak dirinya sendiri dan bangsa secara umum. Pemuda juga harus membangun sikap yang sportif, taat aturan, disiplin, punya kemauan yang tinggi dan jauh dari sikap yang memecah persatuan dan kesatuan apalagi provokasi dari pihak-pihak tertentu yang tak menginginkan keharmonisan. Walaupun kecil, hal-hal seperti inilah yang dapat memecah belah bangsa.

Begitu pula halnya dengan kasus perundungan yang ada di Indonesia. Kasus ini terjadi karena banyaknya pemuda yang kurang diajari tentang sikap sosial dan nilai moral sehingga terjadilah kasus bullying tersebut. Kasus perundungan membuat mental para korban jatuh dan sulit dikembalikan, yang awalnya bersikap terbuka menjadi sangat tertutup dengan lingkungannya.

Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita untuk memahami arti mendalam tentang nilai moral agar di masa depan dan masa sekarang pemuda Indonesia memiliki nilai moral yang baik dengan tujuan dapat membantu mewujudkan Indonesia Emas dengan nilai moral sebagai penopang utama bagi setiap sikap pemuda masa depan.

Sebagai generasi penerus  bangsa, para pemuda Indonesia harus bisa membekali diri dengan sikap dan moral yang baik sebagai pertahanan agar terhindar dari segala macam pengaruh buruk dan ancaman yang dapat menjerusmuskan kedalam kegagalan.

Penanaman nilai moral dapat diterapkan mulai usia dini dan dapat dimulai dari lingkungan terdekat seperti keluarga.

Terdapat dua sikap lain yang menjadi sebentuk hambatan pemuda Indonesia dalam mewujudkan generasi emas di tahun 2045 selain yang telah disebut sebelumnya. Dua hal tersebut adalah sikap individualis dan hedonism. Kedua sikap ini dikhawatirkan menyebabkan penduduk usia produktif sulit untuk bekerja sama dalam menghadapi persaingan antar bangsa di tahun tersebut.

Ditambah lagi, bila pendidikan pemuda-pemudinya rendah dan tidak memiliki keterampilan, serta cuek, tentu akan menjadi berat sekali untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Jika hal ini dibiarkan, maka Indonesia akan sulit keluar dari jebakan perangkap pendapatan menengah (middle income trap).

Terakhir, Setiap pemuda Indonesia harus siap menjadi duta Indonesia di kancah internasional. Duta inilah yang pada akhirnya juga salah satunya akan membentuk Positive Nation Branding Indonesia di mata bangsa lain. 

Menjadi duta Indonesia di kancah international sangat mudah dan bisa dilakukan setiap hari. Membentuk citra bangsa kini dapat dilakukan oleh siapa saja dengan  modal smartphone dan internet. Sebenarnya tak pandang bulu, siapa saja sudah bisa ikutan mem-branding Indonesia secara global.

Para creator di media sosial seperti YouTube, Instagram, dan TikTok. Namun demikian, tidak dapat kita pungkiri bahwa kebanyakan yang melakukan hal tersebut adalah para pemuda yang sangat cepat dalam mengadopsi inovasi teknologi.

Beberapa pemuda Indonesia telah melakukan hal ini misalnya di bidang hiburan seperti Weird Genius, Voice of Baceprot dan keikutsertaan Putri Ariani di American Got Talents. Band yang terdiri dari Eka Gustiwana, Reza Oktovian, dan Gerald sukses melestarikan budaya Indonesia terutama Jawa lewat lagu Lathi di YouTube.

Berbagai tanggapan para YouTuber terkenal dari berbagai negara yang memberikan review, feedback, dan video reaksi yang positif serta apresiatif kepada Weird Genius.
Grup band ini membuktikan bahwa kekuatan media sosial begitu besar, sampai bisa ikut memberikan persepsi kepada dunia bahwa budaya Indonesia itu sangat beragam dan bisa ditampilkan dengan cara yang modern, kekinian, dan kreatif.

Belum lagi prestasi yang ditorehkan oleh Putri Ariani dalam ajang American Got Talents  beberapa bulan yang lalu. Setidaknya membawa nama harum Indonesia di kancah internasional, paling tidak diantara di Amerika Serikat dan negara-negara yang berpartisipasi dalam ajang internasional tersebut walaupun banyak yang meragukan kepopuleran ajang tersebut.

Belum lagi di bidang olahraga seperti prestasi yang telah ditunjukkan oleh Felix Victor Iberle yang menjuarai olahraga Renang pada kompetisi Kejuaraan Dunia Renang Junior 2023 yang berlangsung di Netanya, Israel beberapa waktu yang lalu.

Dia menjuarai kategori yang cukup bergengsi yakni gaya dada putra 50 meter dengan waktu 27,39 detik.
Weird Genius, Putri Ariani dan Felix Victor Iberle hanyalah salah satu dari sekian banyak pemuda/i Indonesia yang turut serta dalam nation branding lewat karya - karyanya.

Melihat kreativitas anak muda yang semakin dikenal dunia, Untuk mem-branding Indonesia di mata global, bukan lagi didominasi oleh pejabat publik atau diplomat, tapi semua orang Indonesia adalah ambassador, terutama yang berada di luar negeri baik untuk belajar, bekerja, maupun wisata.

Dengan membuat konten media sosial, setiap warga negara Indonesia memiliki peran penting dalam menyebarkan berita berita positif soal Indonesia kepada dunia.
Era dimana pemerintah menggunakan media mainstream seperti televisi dan surat kabar untuk melakukan citra positif soal Indonesia mungkin saat ini memasuki masa senja.

Peran media massa untuk menciptakan nation branding saat ini sudah jauh sekali menurun, sehingga apa yang dilakukan oleh para pemuda dengan penggunaan media sosial sekarang sangat - sangat dominan.

Oleh karena itu, pemuda Indonesia harus mampu menembus batas dunia terlebih menjelang tahun 2045. Pemuda Indonesia perlu mengatasi ancaman sekaligus hambatan seperti sikap dan perilaku destruktif yang telah tersebut sebelumnya.

Hal ini dilakukan demi membangun sumber daya yang berkarakter dan siap untuk membangun reputasi yang baik untuk Indonesia di mata dunia.

Dengan memiliki reputasi bangsa yang lebih baik atau memiliki nation branding yang positif maka diharapkan Indonesia di usia emasnya akan menjadi bangsa yang maju dan diakui oleh bangsa-bangsa lain.

(Imam Nuraryo, Wakil Ketua Umum KAPPIJA 21 dan Dekan Fakultas Komputer & Komunikasi IBIKKG)

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved